Saturday, August 8, 2026

Malam Berkabut, Kijang Super Putih, dan Cokelat Hangat (Bandung, 1993)

Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi selama puluhan tahun, lalu muncul kembali pada suatu malam yang tenang, atau ketika matahari baru saja menyapa pagi.

Semalam, tanpa sebab yang jelas, saya kembali berada di Bandung tahun 1993.

Bukan secara fisik.


Melainkan melalui ingatan.

Sekitar bulan Oktober atau November 1993.

Pukul dua dini hari.

Bandung masih merupakan kota yang tenang. Jalanan belum dipenuhi kendaraan seperti sekarang. Kabut tipis turun perlahan menyelimuti Dago, membuat lampu-lampu jalan berubah menjadi lingkaran-lingkaran cahaya kekuningan yang lembut.

Kami baru saja keluar dari Labtek V dan PAU ITB.

Kami bukan mahasiswa ITB, tetapi malam itu kami harus mengambil data termal yang hanya bisa diakses melalui fasilitas di sana. Untuk mendapatkan kesempatan menggunakan komputer saja, kami harus mengantre sejak pukul lima sore. Baru sekitar pukul sebelas lewat tiga puluh malam kami mendapat giliran. Sebagian data berada di PAU, sebagian lagi di Labtek V. Ketika semua selesai, jam hampir menunjukkan pukul satu dini hari. Meluncur perlahan menyusuri Dago bawah menuju Tol Suryasumantri yang sekarang lebih dikenal dengan nama Tol Pasteur.

Saat itu, tidak ada yang mengeluh.

Begitulah kehidupan mahasiswa.

Kami terlalu sibuk mengejar hari esok untuk sempat mengeluhkan hari ini.

Yang penting datanya berhasil diperoleh.


Mobil yang menunggu kami adalah sebuah Toyota Kijang Super putih.

Kijang generasi lama.

Dashboard-nya masih berupa plat besi sederhana. Di tengah dashboard terpasang radio Panasonic National. Hanya radio. Tidak ada pemutar kaset. Apalagi CD.

Radio Ardan masih mengudara.

Di sela perjalanan terdengar lagu-lagu yang sekarang hanya sesekali muncul sebagai nostalgia.

  • "Don't Cry Tonight" dari Savage.
  • "Somewhere Around New Year's Eve" dari Fariz RM.
  • "Nikita" dari Elton John.

Entah mengapa, lagu-lagu itu terasa sangat cocok dengan dinginnya Bandung dini hari.


Di dalam mobil ada lima orang.

  • Saya.
  • Dee, mahasiswi Farmasi yang sekarang saya panggil Pingu.
  • Nesag, mahasiswi senior Kedokteran yang kami beri julukan The Barber, karena dialah yang rutin mencukur rambut kami agar tetap rapi. Bertahun-tahun kemudian Nesag bergabung dengan Marinir sebelum akhirnya menyelesaikan pendidikan dokternya.
  • Bob Irwandhie, yang selalu kami panggil Bobby Six Smile.
  • Dan seorang adik tingkat yang malam itu ikut membantu persiapan tugas akhir. Anehnya, setelah bertahun-tahun, justru nama dialah yang paling sulit saya ingat.

Ada pertanyaan yang sering muncul ketika saya menceritakan kisah ini.

"Mengapa mahasiswa Farmasi dan Kedokteran ikut dalam urusan data termal anak Teknik?"

Jawabannya sederhana.

Kami meminjam laptop mereka.

Pada tahun 1993, meminjam laptop berarti...

pemilik laptop ikut datang.

Laptop bukan barang biasa.

Laptop adalah aset.

Dan aset dijaga bersama pemiliknya.


Saya masih ingat laptop milik Dee.

Tadi pagi Dee mengoreksi ingatan saya.

"Bukan Toshiba T1900," katanya sambil tersenyum.

"Sepertinya T1800."

Sedangkan laptop Nesag sepertinya memang sedikit lebih baru.

Anak-anak Farmasi dan Kedokteran memang selalu memiliki peralatan yang terlihat jauh lebih modern daripada kami anak Teknik.

Mereka membawa Toshiba yang sudah menjalankan Windows 3.1 berwarna.

Sementara kami?

Kami merakit komputer sendiri.

Sedikit demi sedikit.

Motherboard bekas.

RAM bekas.

Harddisk yang dibeli ketika tabungan cukup.

Power supply hasil berburu di pasar loak.

Kabel dibuat sendiri.

Komputer kami mungkin lebih pantas disebut karya Frankenstein daripada komputer rakitan.

Bukan karena kami menyukai barang bekas, tetapi karena itulah satu-satunya cara agar sebuah komputer bisa lahir dari isi dompet mahasiswa.

Tetapi kami bangga.

Karena setiap baut dan setiap kabel dipasang dengan tangan sendiri.


Bandung malam itu dingin.

Sangat dingin.

Ruang komputer PAU memang selalu dijaga bersuhu rendah demi menjaga kestabilan perangkat. Anehnya, begitu kami masuk ke dalam Kijang Super, rasanya tidak jauh berbeda.

Kami semua mengenakan jaket.

Tetapi tetap saja udara dini hari Bandung berhasil menyelinap ke dalam mobil.

Untunglah Dee sudah mempersiapkan sesuatu.

Sebuah termos kecil.

Di dalamnya ada cokelat hangat.

Serta sebungkus biskuit Jacob yang berbentuk kotak-kotak kecil.

Tidak mewah.

Tetapi malam itu terasa seperti jamuan terbaik.

Nesag juga membawa lontong isi oncom.

Masalahnya...

lontong itu sudah sedingin es.

Mereka berdua bahkan sempat berusaha menghangatkannya menggunakan segelas air panas di pantry, entah di PAU atau di Labtek V. Lontong itu memang sempat terasa hangat.

Tetapi hanya sebentar.

Begitu kembali ke dalam mobil, hukum kedua termodinamika kembali menunjukkan kekuasaannya.

Udara dingin Bandung mengambil alih.

Kalor berpindah.

Kesetimbangan termal tercapai.

Lontong kembali dingin.

Sebagai mahasiswa Teknik, saya baru menyadari puluhan tahun kemudian bahwa malam itu Rudolf Clausius dan Clapeyron diam-diam ikut duduk bersama kami di bangku belakang, sementara Herr Walter Traupel, Herr Aurel Stodola dan Herr Richard Mollier masih menantikan data kami di lab yang kami tuju.

Namun...

anehnya...

lontong itu tetap kami makan sampai habis.

Karena lapar selalu menjadi bumbu terbaik.


Kami tidak mampir ke roti bakar Dago.

Bukan karena tidak ingin.

Melainkan karena uang kami memang tidak cukup.

Prioritas malam itu sederhana.

Bensin.

Tol.

Sisanya...

ya sudah.

Cokelat hangat.

Jacob.

Lontong dingin.

Dan persahabatan.

Malam itu kami belajar bahwa rasa kenyang tidak selalu ditentukan oleh banyaknya makanan, melainkan oleh orang-orang yang duduk di sekelilingnya.


Ketika keluar dari gerbang tol menuju kota kecil tempat kampus kami berada, perjalanan belum selesai.

Kami masih menuju laboratorium.

Laptop-laptop Toshiba itu harus dipindahkan isinya ke komputer rakitan saya.

Komputer 80286.

Sudah menjalankan Windows 3.1 berwarna juga, walaupun bentuk casing-nya lebih mirip hasil eksperimen ilmuwan gila dibanding komputer pabrikan.

Proses pemindahan data dilakukan menggunakan LapLink melalui kabel paralel DB25 yang kami buat sendiri.

Hari ini orang memindahkan data puluhan gigabyte melalui Wi-Fi hanya dalam hitungan detik.

Saat itu...

melihat progress bar LapLink bergerak tanpa error saja sudah cukup membuat kami tersenyum lega.


Sementara komputer bekerja menyalin data, dua teman lain yang satu kelompok tugas akhir ternyata sudah menyiapkan kopi hangat.

Ibu pemilik rumah kos bahkan menggorengkan bala-bala yang masih mengepul untuk dibawa ke lab.

Setelah semalaman ditemani Jacob dan lontong dingin, bala-bala panas itu terasa seperti makanan restoran bintang lima.


Menjelang subuh saya mengantar Nesag pulang lebih dahulu.

Lalu mengantar Dee kembali ke tempat kosnya.

Saat itu saya hanya sempat berpikir...

"Kapan ya saya bertemu Dee lagi?"

Bertahun-tahun kemudian, ketika kami mengenang malam itu bersama, Dee justru tertawa sambil berkata,

"Lucunya... waktu itu aku berpikir, aku ingin bertemu lagi dengan beruang lucu ini."

Saya ikut tertawa.

Karena ternyata...

selama perjalanan pulang yang dingin itu, kami masing-masing menyimpan pertanyaan yang hampir sama.

Tidak ada satu pun dari kami yang tahu bahwa puluhan tahun kemudian kami masih akan mengenang malam tersebut.


Kini, setelah lebih dari tiga dekade berlalu, Nesag tetap mengabdi sebagai dokter, Saya bersyukur mengetahui bahwa jalannya tetap mengarah pada pengabdian. Garis-garis halus di wajahnya bertambah, tetapi senyumnya masih sama seperti dulu.

Bob Irwandhie sempat berkarier di industri, membangun perusahaan jasa POS yang akhirnya diakuisisi IBM, sebelum memilih jalan hidup yang lebih tenang sebagai guru di STM.

Dee lulus lebih cepat daripada kami semua. Memang sejak dulu ia lebih tekun dan lebih disiplin.

Sedangkan saya...

masih tetap menjadi "Bear" yang sesekali menghabiskan malam memikirkan termodinamika, Diagram Mollier, Traupel, Stodola, Hoerbiger-Journal-Software, IF-97 (region 1 to 5), Gibbs, Helmholtz, Maxwell Constructor, Van der Waals, Gauss-Elimination without pivot, VB3.0-OTVDM, atau sekadar mencari sleeve kulit untuk menyimpan bolpoin hadiah dari Dee.


Kalau ada yang bertanya kepada saya sekarang, apa yang paling saya ingat dari malam itu?

Bukan data termalnya.

Bukan komputer rakitan.

Bukan Toshiba.

Bukan pula LapLink.

Yang paling saya ingat justru sebuah Kijang Super putih yang meluncur perlahan membelah kabut Bandung pukul dua dini hari.

Radio Ardan mengalunkan lagu-lagu yang kini menjadi nostalgia.

Ada satu benda yang paling berjasa, mungkin bukan Toshiba, bukan LapLink, bahkan bukan komputer rakitan kami. Mungkin justru sebuah termos kecil berisi cokelat hangat yang dibawa Dee. Kadang perhatian seseorang hadir bukan dalam bentuk kata-kata besar, melainkan dalam hal sederhana: memastikan teman-temannya tidak terlalu kedinginan pada pukul dua dini hari.

Lima sahabat mengenakan jaket, saling berbagi cokelat hangat, biskuit Jacob, dan lontong yang kalah cepat mendingin oleh udara Bandung.

Secara termodinamika, malam itu kalor memang terus mengalir menuju kesetimbangan.

Tetapi persahabatan...

justru menyimpan kehangatannya hingga lebih dari tiga puluh tahun kemudian. 🤎


Editorial notes 2026:

"Data termal yang kami salin malam itu mungkin sudah lama tergantikan oleh komputer-komputer yang jauh lebih cepat. Toshiba T1800, T1900, LapLink, kabel DB25 buatan sendiri, bahkan komputer 80286 rakitan kini tinggal bagian dari sejarah teknologi. Namun ada satu hal yang tidak pernah usang: lima anak muda yang saling berbagi cokelat hangat, biskuit Jacob, bala-bala, dan tawa di tengah dinginnya Bandung. Rupanya, yang paling awet bukanlah perangkat keras ataupun perangkat lunak, melainkan kenangan yang tersimpan di hati orang-orang yang pernah menjalaninya bersama."